Jumat, 13 Juli 2018

Allah Itu Suci


Untuk kalian yang percaya Yesus Kristus, pernahkan anda berpikir bahwa atas iman kita pada Yesus, toh kita selalu melihat penderitaan.  Kita selalu melihat bahwa percaya Yesus juga menderita sakit, kelaparan, bahkan kematian menyedihkan.

Pict from Google. Jesus Christ in Lembe island
Yesus Kristus tidak pernah datang, walau jutaan doa di panjatkan siang dan malam.  Allah terdiam ketika bencana alam, tsunami, kebakaran merenggut bukan hanya puluhan, ratusan, puluhan ribu, bahkan jutaan.

Tuhan Maha Kasih yang penuh kuasa itu bahkan membisu ketika pengikutNya dijadikan sirkus sadis kaisar Nero.  Mereka di cabik hidup-hidup, dan jadi santapan singa di Colouseum Romawi

Allah toh tetap tidak terlihat berbuat banyak dalam pemecahan masalah penyakit kanker, demam berdarah, darah tinggi, stroke, gagal ginjal, sirosis, yang telah merenggut orang-orang yang kita kasihi.

Yesus Kristus tetap tampak tidak perduli oleh doa puasa, perjamuan kudus, pujian dan penyembahan, doa semalam suntuk, bahkan berbulan-bulan penuh air mata, demi sebuah ‘kesembuhan’ kecil yang tak pernah datang sama sekali, dan justru kita dipaksa melihat mereka,-orang-orang terkasih pergi dalam jasad yang memprihatinkan.

Lalu, benarkah iman kita ?  Apa yang membuat kita berbeda dengan mereka yang tidak percaya padaNya ?

Allah itu Suci.  Dan apapun yang terjadi dalam hidup pengikutNya, tidak akan pernah setitikpun memudarkan kesucian Allah.  Dan Ia, yang hanya dengan sebuah kata, mampu menjadikan seluruh alam semesta menjadi sebutir debu, memilih diam dalam banyak episode derita umatNya, karena sebuah alasan yang tak akan pernah kita pahami.

Kecerdasan kita sebagai manusia, mungkin bisa memecahkan persoalan-persoalan intelektual, tapi tidak masalah kemanusiaan, apalagi misteri, dan otoritas Allah.  Kita hanya di tuntut percaya,-tidak lebih, dan tidak kurang.

Percaya yang menuntun kita pada Kasih dan Karunia Allah, dalam Yesus Kristus.

Seorang petani yang bekerja keras membanting tulang, di tengah terik matahari, dan hujan, menggarap tanah, dan menabur benih, tentunya tidak dengan kesia-siaan melakukan semua itu, tanpa suatu kepercayaan bahwa saatnya kelak, benih yang tidak terlihat itu akan menghasilkan buah yang berlimpah-limpah.  


Iman tidak…. berasal dari dari mujizat, tapi mujizat dari Iman (Novelis Russia, Fyodor Dotoevsky)

Terpujilah Engkau ya Kristus


Midlle of July, 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar