Selasa, 21 April 2015

Indonesia Ngga Butuh Presiden koq

(Sebelom ngabisin waktu buat lanjut mbaca, loe musti yakin dulu kalo loe orang waras yang sial karena masuk lintasan khusus orang yang kurang waras)

Ketika kita berkesempatan milih sendiri presiden kita, sebenarnya kita udah di kecoh sama ketidaksadaran kita,  seolah pada moment itulah kita merasa waras sebagai warga negara.  Padahal kita justru masuk pada gerbang ketidak warasan.  Coba deh pikir, apa namanya ketika kita merasa jadi  waras hanya karena ditawari milih presiden ?  Kan harusnya kita-kita ngga perlu sibuk.  Harusnya kita santai, tidak cape, tidak darah tinggi, dan terima aja siapa yang jadi presiden.  Kita absolutely waras, karena  bebas dalam kewarasan itu sendiri.  Keyakinan kita pada kewarasan malah goyah manakala tawaran itu datang.  Sebuah permulaan membukanya gerbang ketidak warasan kita.

Proses menuju pemilihan makin memperkental ketidak warasan kita.  Saling hina, saling fitnah, saling hujat, saling maki jadi hal yang sangat biasa.  Kita tenggelam dalam ketidak warasan aneh yang makin ke dalam justru kita yakini sebagai sebuah kewarasan hakiki.  Masing-masing pendukung mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk saling melemahkan, meremukan, dan meluluhlantakan calon-calon lawan.  Kita merasa hebat dalam ketidak warasan. 

Ketika presiden terpilih, dan gerbang ketidak warasan tertutup, barulah kita tersadar dari hipnotis.  Masing-masing kita tersenyum pada tindakan tidak waras yang pernah kita geluti bersama sebagai sebuah bangsa beradab.  Kita baru sadar bahwa apa yang pernah kita lakukan dalam ketidak warasan lebih banyak merugikan.  Bukan semata dari segi ekonomi, tapi juga kejiwaan.  Makanya belakangan kita menyesalinya.  Malah, dalam kalimat tersirat, kita akhirnya kompak untuk berkata:

Indonesia ngga butuh Presiden koq...”

Karena Indonesia cuma butuh makanan, kasur, dan kalender. Seorang presiden cuma akan mengombang-ambingkan keyakinan kita pada waras dan tidak.
Dalam dunia peradilan, seorang terdakwa bisa divonis bebas kalo masuk pada kategori yang ada di Pasal 44 ayat 1 & 2 KUHP, yang intinya soal waras ato ngga waras.

Nah, di sini mujurnya kita.  Karena siapapun presiden yang terpilih, bisa aja langsung dianulir lantaran para pemilihnya,..ehmm,...hahaha, mungkin lagi pada ngga waras.


(alamak, ...gue nulis apaan  ?)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar